Oleh: janromalians
Tak pernah aku memaksakan apa yang menjadi kehendak agar kamu mau walau sedikit
saja sisihkan waktu sekedar melihat apa judul pada sampul buku, sungguh
isiannya belum pernah kamu tahu, sebab mereka adalah utusan kata-kata sanubari
yang urung diucap mulutku, pun demikian kamu pasti bisa mengira sampah-sampahnya
sejak dari lembar halaman satu.
Salahku menjadi sebuah
rahasia yang sesungguhnya tengah menggema ke semua telinga, dan tanpa disadari
mata-mata akan melihat betapa telanjangnya dada yang menutupi rasa.
Kamu tak pernah tahu, betapa
kacaunya perasaanku menantikan setiap kehadiran waktu, walaupun sedikit saja
tersisa dari bentangan masa yang menggelar dari pagi ke siang begitu cepatnya berlalu,
beranjak kepetang sebelum akhirnya harapan lebur bersama pulangmu.
Kamu tak pernah tahu, betapa
tersiksanya arti kata merindu yang aku rasai setiap kujajakan menunggu, dan aku
sudah tak akan pernah lagi membuat dunia
maya tahu, pada apa-apa yang terlipat dalam kalbu.
Mungkin pernyataanmu tentang
tulisan-tulisan; adalah isyarat perihal
pemburu pelangi pada nafasmu yang tengah kembang kempis memula lagi sebuah
perburuan, hingga cukuplah bagiku cetakbiru kenangan, yang kamu tinggalkan dalam
laci meja untuk aku simpan, apakah itu sebagai pelampiasan pembalasan kekesalan,
atau jenuh telah memenuhi sukmamu dengan semua kebosanan.
Sungguh kukira kata-kata
yang manis pada meja-meja selain mejaku, adalah guyonan konyol agar nuansa
tidak kaku, yang ternyata adalah kesengajaan
hendak menggores luka menjadikan amor membakar panji –panji cemburu.
Kamu salah dadar guling, aku
tak akan lagi ambil pusing, terhadap kata-kata yang menggelinding, atau pada perilaku
dan ucapan memancing, sebab terbiasalah aku hanya bisa bergeming.
Namun cinta, sayang dan
kasihku padamu tak akan tergeserkan sekalipun oleh magma, apalagi hanya sekedar
mega yang terhenyak angin senja.
Curug.kp3b, 22.11.2016ik