Sabtu, 31 Desember 2016

Bersama2017



Tahun bergulir seiring surya meninggalkan bayangannya di balik Desember yang menampakkan punggungnya.
Jendela senja yang memeluk sejenak , lembayung bersandar pada dinding lemari se~ungu langit biru yang merindukannya.
Banyak yang gagal tergapai di tahun belakang, mengurangi  beban sesal untuk lebih bersegera wujudkan semua harap dan cita.
Bersamamu, semoga hambat rintang berpaling dan menjauh dari jalanan cinta menuju karena akhiratNya.

Janromalian.blogspot.co.ad~2017

Rabu, 28 Desember 2016

Ciptaan..



Apa yang membuat kita ada,
Apa yang membuat sesuatu terlaksana,
Apa yang membuat perasaan hampa mengambang,
Apa yang membuat sesuatu hilang melayang,

Adalah waktu, yang sering terbuang percuma,
Dihempas sibuknya dunia.

Tetapi puan, cinta selalu memberikan ruangnya, bahkan disaat kita tidak bersama.
Membuka beberapa bagian otak di kepala,
Yang mampu memberikan akses untuk kita bebas menjelajah,
Bagian Imaginasi yang tak pernah kita gapai dengan desah.
Memungkinkan ratusan ribu tentara sajak dan pujangga kata berperang dan berintuisi.
Menghadang setiap serangan candu rindu, lalu menawannya dalam rantaian puisi.
Bagaimanakah cara kita menguasai waktu, tidak bisa. Kita hanya mampu mengisi setiap detiknya dengan hal-hal yang bisa kita kerjakan dalam kebaikan, sebelum ia menelan kita kemudian hilang dari peredaran jarum jam.



Jrl.4n , ~ Rangkasbitung, 26-12-2016

Unduh



Duhai cinta, setiapku tiadamu lakuku memunguti aksara rangkai kata dan mengharap jalinan kalimat menjadi paragraf indah pun dengan makna rahasia.

Untungnya aku unduh “I Surender”mu tembang mendayu, yang mampu menepis rasa menggebu, walau setelahnya justeru aku semakin bernafsu, berandai angan memilah milah waktu.

Biarlah bahtera ini melayar atas kehendakNya, mengalun kemana hati dewa Bayu menuntunnya, semoga saja muara bahagia menyambut bersama berkah selamanya.


Curug.kp3b, 24.11.2016ik

Selasa, 27 Desember 2016

Cetakbiru



Oleh: janromalians

Tak pernah aku memaksakan apa yang menjadi kehendak agar kamu mau walau sedikit saja sisihkan waktu sekedar melihat apa judul pada sampul buku, sungguh isiannya belum pernah kamu tahu, sebab mereka adalah utusan kata-kata sanubari yang urung diucap mulutku, pun demikian kamu pasti bisa mengira sampah-sampahnya sejak dari lembar halaman satu.

Salahku menjadi sebuah rahasia yang sesungguhnya tengah menggema ke semua telinga, dan tanpa disadari mata-mata akan melihat betapa telanjangnya dada yang menutupi rasa.

Kamu tak pernah tahu, betapa kacaunya perasaanku menantikan setiap kehadiran waktu, walaupun sedikit saja tersisa dari bentangan masa yang menggelar dari pagi ke siang begitu cepatnya berlalu, beranjak kepetang sebelum akhirnya harapan lebur bersama pulangmu.

Kamu tak pernah tahu, betapa tersiksanya arti kata merindu yang aku rasai setiap kujajakan menunggu, dan aku sudah tak akan pernah lagi membuat  dunia maya tahu, pada apa-apa yang terlipat dalam kalbu.

Mungkin pernyataanmu tentang tulisan-tulisan;  adalah isyarat perihal pemburu pelangi pada nafasmu yang tengah kembang kempis memula lagi sebuah perburuan, hingga cukuplah bagiku cetakbiru kenangan, yang kamu tinggalkan dalam laci meja untuk aku simpan, apakah itu sebagai pelampiasan pembalasan kekesalan, atau jenuh telah memenuhi sukmamu dengan semua kebosanan.

Sungguh kukira kata-kata yang manis pada meja-meja selain mejaku, adalah guyonan konyol agar nuansa tidak kaku, yang ternyata adalah kesengajaan  hendak menggores luka menjadikan amor membakar panji –panji cemburu.

Kamu salah dadar guling, aku tak akan lagi ambil pusing, terhadap kata-kata yang menggelinding, atau pada perilaku dan ucapan memancing, sebab terbiasalah aku hanya bisa bergeming.

Namun cinta, sayang dan kasihku padamu tak akan tergeserkan sekalipun oleh magma, apalagi hanya sekedar mega yang terhenyak angin senja.  



Curug.kp3b, 22.11.2016ik

Kepastian



Oleh: janromalians

Perahu itu terombang ambing di tengah lautan, Terlanjur jangkarnya diangkat, namun pantang kembali kepelabuhan untuk merapat. Kesungguhan yang telah ditanam pada hati benar-benar kuat, dalam mewujudkan semua harapan.

Arah yang kemarin sudah ditetapkan untuk melayari samudera menuju sebuah negeri impian, tempat di mana banyak embun menyelimuti pagi seiring celotehan burung murai yang bersahutan, kini tak tahulah lagi kemana kemudi ini di belokkan.

Lihatlah mentari itu, rasanya ia semakin lama saja menyinari dengan khusu, seperti tak memberikan kesempatan kepada malam, tempat mengadu semua keluh kesah yang terpendam, apa mungkin ia sedang melakoni peran balas dendam ?

Padahal bisa saja bintang-bintang dijadikan patokan, dalam melakoni pelayaran yang mulai melelahkan, tetapi apa yang sekarang bisa dilakukan, hanya berdiam diri dan mencoba untuk bertahan, mengasingkan cinta yang tengah diterjang gelombang kerinduan.



Curug.kp3b, 22.11.2016ik