Selasa, 27 Desember 2016

Cetakbiru



Oleh: janromalians

Tak pernah aku memaksakan apa yang menjadi kehendak agar kamu mau walau sedikit saja sisihkan waktu sekedar melihat apa judul pada sampul buku, sungguh isiannya belum pernah kamu tahu, sebab mereka adalah utusan kata-kata sanubari yang urung diucap mulutku, pun demikian kamu pasti bisa mengira sampah-sampahnya sejak dari lembar halaman satu.

Salahku menjadi sebuah rahasia yang sesungguhnya tengah menggema ke semua telinga, dan tanpa disadari mata-mata akan melihat betapa telanjangnya dada yang menutupi rasa.

Kamu tak pernah tahu, betapa kacaunya perasaanku menantikan setiap kehadiran waktu, walaupun sedikit saja tersisa dari bentangan masa yang menggelar dari pagi ke siang begitu cepatnya berlalu, beranjak kepetang sebelum akhirnya harapan lebur bersama pulangmu.

Kamu tak pernah tahu, betapa tersiksanya arti kata merindu yang aku rasai setiap kujajakan menunggu, dan aku sudah tak akan pernah lagi membuat  dunia maya tahu, pada apa-apa yang terlipat dalam kalbu.

Mungkin pernyataanmu tentang tulisan-tulisan;  adalah isyarat perihal pemburu pelangi pada nafasmu yang tengah kembang kempis memula lagi sebuah perburuan, hingga cukuplah bagiku cetakbiru kenangan, yang kamu tinggalkan dalam laci meja untuk aku simpan, apakah itu sebagai pelampiasan pembalasan kekesalan, atau jenuh telah memenuhi sukmamu dengan semua kebosanan.

Sungguh kukira kata-kata yang manis pada meja-meja selain mejaku, adalah guyonan konyol agar nuansa tidak kaku, yang ternyata adalah kesengajaan  hendak menggores luka menjadikan amor membakar panji –panji cemburu.

Kamu salah dadar guling, aku tak akan lagi ambil pusing, terhadap kata-kata yang menggelinding, atau pada perilaku dan ucapan memancing, sebab terbiasalah aku hanya bisa bergeming.

Namun cinta, sayang dan kasihku padamu tak akan tergeserkan sekalipun oleh magma, apalagi hanya sekedar mega yang terhenyak angin senja.  



Curug.kp3b, 22.11.2016ik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar