Selasa, 27 Desember 2016

Ratu




       Berlarian sel-sel di otakku ketika pintu-pintu itu bergembok kunci, anak-anaknya sembunyi dalam rahasia sunyi, entah sendiri entah menyepi, tapi mungkin saja ikutan berlari ke sana kemari. Yang pasti malam ini aku tidak mau sendiri berguling-guling tak keruan semalaman hingga pagi menjemput esok hari, karena aku tak tahu lagi harus ke mana melangkahkan kaki.
             Di persimpangan jalan yang penuh tawaran-tawaran menggiurkan badan, dalam keheningan dan kerancuan juga parahnya kecanduan, sebuah pesan menerjang aral merintang menyegerakanku ambil keputusan, menerima sebuah tantangan dan memaksa berakhirnya sebuah penderitaan.
           Tak ayal lagi kumasuki ruang senyap yang sesungguhnya terang benderang, dengan degupan jantung yang setiap menitnya bertambah kencang, aku berharap agar kecemasan dalam dada segera menghilang, digantikan kedamaian yang katanya masih di jalan dan sedang menarik satu demi satu  jarak yang membentang.
            Sekonyong-konyong si andro  meronta berteriak dalam getaran juga dering, melompat-lompat kaki sebatas lutut kegirangan alamat sirnanya rasa dahaga yang mengering, bergegas saja kubuka beban berat engsel untuk memastikan di baliknya ratu sang pemilik netra bening, benar adanya mengukir senyuman di bibirku tersungging.
Lampu-lampu lahap menatap membuat hasratku meremang malu, berseri-seri mulut kudaku merasakan gigi ngilu, merekam desah irama nyanyian sanjak semerdu lagu, beberapa peraduan menjedakan setengah masa lalu bertukar serupa sofa busa kursi kayu beludru.
          Ratu, engkau menegurku yang berdiam diri membeku, seolah menahan dalam-dalam setiap geliat yang tengah berlaku, andai saja engkau faham sesungguhnya jari-jemari tengah menghitung waktu, agar aku tidak selalu menjadi yang kesatu, kuingin giliranmu merasakan kesenangan menjadi yang pertama dikala menyatu padu, karena sungguh itu yang selama ini menjadi dambaan kalbu, walaupun pada akhirnya upayaku selalu membuahkan lagi-lagi keliru.
           Apa yang menjadi sangat penting ketika bersama ? adalah keleluasaan rongga paru dari setiap tarikan nafasku seakan menghirup udara beraroma surga.
Apa yang menjadi begitu penting saat kita merangkai jarak ? adalah kedasyatan ruang waktu pada hitungan detiknya menanami rindu pada bait puisi dan paragrap prosa yang bagaikan rincik indah memenuhi lembaran sanjak.
            Aku tak ingin menjadi batu tulis puisi yang tersimpan rapat-rapat pada sudut hati dan tersembunyi, pada masanya semesta alam raya mesti menjadi saksi perihal lahirnya bahagia pada ucapan janji suci dalam berjalan beriringan mengarungi bahtera samudera sehidup semati.




[ Tuhan, ini adalah kebahagian yang menyempurnakan percintaan dengan benar, entahlah mengapa semua ini terasakan sangat familiar, walaupun keseluruhan yang terlaksana melampui batasan nalar, karenanya aku selalu tak sanggup menahan lapar dahaga yang menjalar, menggerayangi bulu-bulu di sekujur tubuh lalu menyusupi setiap liang pori pada kulit tipis kuncupku sedia mengembang mekar ].

 

Serang, 14 juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar