Berlarian sel-sel di otakku ketika pintu-pintu itu
bergembok kunci, anak-anaknya sembunyi dalam rahasia sunyi, entah sendiri entah
menyepi, tapi mungkin saja ikutan berlari ke sana kemari. Yang pasti malam ini
aku tidak mau sendiri berguling-guling tak keruan semalaman hingga pagi
menjemput esok hari, karena aku tak tahu lagi harus ke mana melangkahkan kaki.
Di persimpangan jalan yang penuh tawaran-tawaran
menggiurkan badan, dalam keheningan dan kerancuan juga parahnya kecanduan,
sebuah pesan menerjang aral merintang menyegerakanku ambil keputusan, menerima
sebuah tantangan dan memaksa berakhirnya sebuah penderitaan.
Tak ayal lagi kumasuki ruang senyap yang
sesungguhnya terang benderang, dengan degupan jantung yang setiap menitnya
bertambah kencang, aku berharap agar kecemasan dalam dada segera menghilang,
digantikan kedamaian yang katanya masih di jalan dan sedang menarik satu demi
satu jarak yang membentang.
Sekonyong-konyong si andro meronta berteriak dalam getaran juga dering,
melompat-lompat kaki sebatas lutut kegirangan alamat sirnanya rasa dahaga yang
mengering, bergegas saja kubuka beban berat engsel untuk memastikan di baliknya
ratu sang pemilik netra bening, benar adanya mengukir senyuman di bibirku
tersungging.
Lampu-lampu lahap menatap membuat hasratku meremang
malu, berseri-seri mulut kudaku merasakan gigi ngilu, merekam desah irama
nyanyian sanjak semerdu lagu, beberapa peraduan menjedakan setengah masa lalu
bertukar serupa sofa busa kursi kayu beludru.
Ratu,
engkau menegurku yang berdiam diri membeku, seolah menahan dalam-dalam setiap
geliat yang tengah berlaku, andai saja engkau faham sesungguhnya jari-jemari
tengah menghitung waktu, agar aku tidak selalu menjadi yang kesatu, kuingin
giliranmu merasakan kesenangan menjadi yang pertama dikala menyatu padu, karena
sungguh itu yang selama ini menjadi dambaan kalbu, walaupun pada akhirnya upayaku
selalu membuahkan lagi-lagi keliru.
Apa yang
menjadi sangat penting ketika bersama ? adalah keleluasaan rongga paru dari
setiap tarikan nafasku seakan menghirup udara beraroma surga.
Apa yang
menjadi begitu penting saat kita merangkai jarak ? adalah kedasyatan ruang
waktu pada hitungan detiknya menanami rindu pada bait puisi dan paragrap prosa
yang bagaikan rincik indah memenuhi lembaran sanjak.
Aku tak
ingin menjadi batu tulis puisi yang tersimpan rapat-rapat pada sudut hati dan
tersembunyi, pada masanya semesta alam raya mesti menjadi saksi perihal
lahirnya bahagia pada ucapan janji suci dalam berjalan beriringan mengarungi
bahtera samudera sehidup semati.
[ Tuhan, ini adalah
kebahagian yang menyempurnakan percintaan dengan benar, entahlah mengapa semua
ini terasakan sangat familiar, walaupun keseluruhan yang terlaksana melampui
batasan nalar, karenanya aku selalu tak sanggup menahan lapar dahaga yang
menjalar, menggerayangi bulu-bulu di sekujur tubuh lalu menyusupi setiap liang
pori pada kulit tipis kuncupku sedia mengembang mekar ].
Serang, 14 juni 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar