Sekejap senja meninggalkan atmosfir biru keemasan dengan mengukir satu
keraguan yang tertanam jauh dari sebuah perjalanan yang memaksa bukan saja
tubuh terasa letih, jiwapun merapuh lelah bayangkan pembaringan menghampar.
Kecewanya malam yang urung menampakan rembulannya, merenggut
persinggahan menjadi yang ramai dengan bocah-bocah keriangan akan arti kehadiran yang justeru membuat aku merasakan
pahitnya mengisi kesunyian sepanjang hari.
Seekor kedasih mockingjay hijau berceloteh taburkan sisa kerinduan
akan sebuah asa yang hampir puput dalam petakan berpendingin kejenuhan.
Namun lalu kemudian jarum jam berputar balik arahnya, mengulurkan sebuah
penawaran akan waktu yang berdetak mundur, tak kumaki kali ini karena detiknya
melaju walau kembali. Lalu serah terima kartu privasi melayangkanku
ke~leluasaan pandangan four point ten dan berjibaku bersama nalar dan logika
yang berarti satu, lembayung melengkungmu sepanjang malam.
Rembulan, biarlah engkau berlalu keperaduan dan bersemayam dalam pelukan
sang fajar, lepaslah aku keluar dari petakan pengasingan yang memenjarakan jarak dan masa, agar dapat kunikmati bintang
gemintang yang memesona dalam untaian galaxi bimasakti dan jingganya
nebula.
Lantunan irama lagu dari senandung syahdu di belahan jiwa ini serupa
nyanyian buluh perindu yang meliuk-liuk terhempas sepoinya angin pada temaramnya
cahaya lilin merah muda, merapatkan bayangan yang kian nyata dalam rengkuhan
dan lenguhan. Lirih lagu keheningan bangkitkan naluri untuk ikut bersenandung
lembut walau liriknya tak kuhapal benar.
Malamnya yang semakin hanyut dan larut kedalam lembutnya buaian embun
menjelang dini hari menciptakan kabut sutera putih kemerahan yang semakin lama
menyelimuti permukaan bumi yang menggeliat dan bersiaga menyambut
menyingsingnya sang fajar.
Raga yang sejatinya menggigil kuat, separuh asa kurasai pada binaran
bening yang memupuk perasaan di kisah ini merupakan penjelmaan bahwa tiada
lorong waktu, tiada black hole, hanya aku dan ke~akuanku saksi pergantian gelap
malam menjadi terangnya siang selelah sang fajar terlelap lelah di balik ufuk timurnya angkasa.
Dan mengerti mentari pagi pun melenggang melintasi kubah birunya langit
secerah senyuman sang malam yang berlalu penuh keceriaan dalam cerita
bercintanya sendiri.
*jrl.4n
Rangkasbitung, 15 juni 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar