Selasa, 27 Desember 2016

Queenly




Sekejap senja meninggalkan atmosfir biru keemasan dengan mengukir satu keraguan yang tertanam jauh dari sebuah perjalanan yang memaksa bukan saja tubuh terasa letih, jiwapun merapuh lelah bayangkan pembaringan menghampar.
Kecewanya malam yang urung menampakan rembulannya, merenggut persinggahan menjadi yang ramai dengan bocah-bocah keriangan akan arti  kehadiran yang justeru membuat aku merasakan pahitnya mengisi kesunyian sepanjang hari. 

Seekor kedasih mockingjay hijau berceloteh taburkan sisa kerinduan akan sebuah asa yang hampir puput dalam petakan berpendingin kejenuhan.
Namun lalu kemudian jarum jam berputar balik arahnya, mengulurkan sebuah penawaran akan waktu yang berdetak mundur, tak kumaki kali ini karena detiknya melaju walau kembali. Lalu serah terima kartu privasi melayangkanku ke~leluasaan pandangan four point ten dan berjibaku bersama nalar dan logika yang berarti satu, lembayung melengkungmu sepanjang malam.





Rembulan, biarlah engkau berlalu keperaduan dan bersemayam dalam pelukan sang fajar, lepaslah aku keluar dari petakan pengasingan yang memenjarakan  jarak dan masa, agar dapat kunikmati bintang gemintang yang memesona dalam untaian galaxi bimasakti dan jingganya nebula.
Lantunan irama lagu dari senandung syahdu di belahan jiwa ini serupa nyanyian buluh perindu yang meliuk-liuk terhempas sepoinya angin pada temaramnya cahaya lilin merah muda, merapatkan bayangan yang kian nyata dalam rengkuhan dan lenguhan. Lirih lagu keheningan bangkitkan naluri untuk ikut bersenandung lembut walau liriknya tak kuhapal benar.
Malamnya yang semakin hanyut dan larut kedalam lembutnya buaian embun menjelang dini hari menciptakan kabut sutera putih kemerahan yang semakin lama menyelimuti permukaan bumi yang menggeliat dan bersiaga menyambut menyingsingnya sang fajar. 
Raga yang sejatinya menggigil kuat, separuh asa kurasai pada binaran bening yang memupuk perasaan di kisah ini merupakan penjelmaan bahwa tiada lorong waktu, tiada black hole, hanya aku dan ke~akuanku saksi pergantian gelap malam menjadi terangnya siang selelah sang fajar terlelap lelah di balik ufuk timurnya angkasa.
Dan mengerti mentari pagi pun melenggang melintasi kubah birunya langit secerah senyuman sang malam yang berlalu penuh keceriaan dalam cerita bercintanya sendiri.



*jrl.4n
Rangkasbitung, 15 juni 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar