Oleh: janromalians
Bagaimanakah engkau
merasakan, bergelut cinta bersama dengan yang engkau sebutkan barusan, mestikah
itu memang pantas diceritakan..?
Bagaikan pecundang aku telak
kalah pada percakapan, bukan karena aku tidak pandai dalam persilatan, namun
karena aku fikir lebih baik diam dan memberinya kesempatan.
Seperti biasanya seorang
pemenang, dia akan membawa semua-semua yang tersisa dari diriku; yang bergulat
sendirian di lingkaran hayal berjibaku, melampiakan dahaga akan sebuah kata
yang serupa arti dengan mengenang.
Pungguk tetaplah sesosok pungguk
yang menakutkan, bilapun rembulan datang bertandang, bukan berarti dia telah
didapatkan.
Bagaimanakah rasa bibirnya
yang serupa bibirku ketika bibirmu mengecap kalimat yang mematahkan harapan
tersimpan dalam bibir hatiku jauh sebelum bibirmu mengucap ingin mengecap
bibirnya. Apakah setara dengan keringat yang mencucuri pojokan netra karena
lama nian menanti datangnya kekasih yang dicinta..?
Cendana5kp, 02.11.2016ik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar